• Ikuti kami : Facebook Jurnal3 Twitter Jurnal3 Google+ Jurnal3 Feedburner Jurnal3
Menguak misteri kematian Ketua CC PKI DN Aidit (1)

Ditangkap di Solo, dieksekusi mati jelang adzan subuh

Selasa, 25 Juni 2013 / 23:05 WIB | Bagikan artikel ke Facebook anda
Dibaca 16436 kali
Dipa Nusantara Aidit,Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI), yang peran dan kematiannya menjadi misteri /*life

Dipa Nusantara Aidit,Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI), yang perannya dalam G30-S/PKI dan kematiannya menjadi misteri /*life

Jurnal3 | Trauma sejarah pasca tragedi peristiwa G30-S/PKI tahun 1965, menyisakan satu misteri besar yang hingga kini belum terungkap dengan jelas. Yakni benarkah Ketua CC (Comitte Central) PKI, Dipa Nusantara Aidit dibunuh, kenapa dan dimana ia dikuburkan?

Pasca ditemukannya jenazah 7 Pahlawan Revolusi yang ditemukan dikubur satu liang di kawasan hutan karet Lubang Buaya, Jakarta, pada 02 Oktober 1965, sosok DN Aidit langsung menjadi buronan wahid yang diburu militer di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto.

Aidit oleh militer saat itu langsung dituduh dan disebut sebagai dalang dan otak dari rencana aksi pemberontakan kepada negara. Aidit dituduh hendak merampok kekuasaan melalui kudeta berdarah dengan menghabisi nyawa para petinggi TNI Angkatan Darat, yang dikenal sebagai pesaing PKI dalam merebut hati pemimpin besar revolusi, Presiden Soekarno.

Ada banyak versi soal kematian Si Amat, sapaan akrab DN Aidit di waktu kecil. Versi pertama menyebut Aidit dijemput oleh segerombolan pasukan militer bersenjata lengkap di rumahnya di Jakarta. Namun, versi lain menyebut, pasca peristiwa berdarah 30 September 1965 malam itu, Aidit kabur dari Jakarta dan lari ke Solo, Jawa Tengah.

Pers nasional tahun 1965 menyebut Aidit ditangkap pada 22 November 1965 pukul 21.00 WIB. Usai digerebek dan berhasil ditemukan bersembunyi di dalam sebuah lemari, ia bilang “Saya Menko Aidit” kepada para tentara yang menangkapnya.

Tapi pernyataan Aidit saat itu sudah tidak laku lagi, hingga akhirnya ia diberitakan tewas ditembak. Adalah Kolonel (inf) Yasir Hadibroto yang mengumumkan secara resmi tewasnya Ketua CC partai komunis terbesar di Asia Tenggara itu.

Menurut keterangan Yasir, sebagaimana dilansir media massa saat itu, usai tertangkap di sebuah rumah di Kampung Sambeng, Solo, Jawa Tengah DN Aidit sempat mengeluh dengan perlakuan yang diterimanya. Maklum, saat itu Aidit menjabat sebagai Menteri Koordinatordan Wakil Ketua Majelis MPR Sementara dan merasa tidak layak ditangkap oleh pasukan.

Namun ada yang aneh dengan pernyataan Yasir berikutnya. Ia mengatakan, Aidit mungkin merasa dilecehkan, sehingga Aidit meminta pasukan yang dipimpinnya untuk menembak dirinya saja. “Saya sebagai prajurit yang patuh dan penurut, langsung menuruti permintaannya. Karena dia mintanya ditembak, ya saya kasih tembak,” ujar Yasir, kala itu.

Kesaksian soal eksekusi orang nomor 1 di PKI itu juga datang dari Ketua Nahdlatul Ulama Boyolali, Tamam Saemuri. Pria berusia lanjut itu sempat berkisah kalau pada malam di bulan November 1965, ia bertemu dengan Kolonel Yasir Hadibroto di sebuah rapat organisasi massa di pendopo kabupaten.

Tamam yang kala itu adalah aktivis Gerakan Pemuda Ansor memang terlibat dalam operasi pembersihan orang-orang PKI. Dikisahkan Tamam, dalam pertemuan itu, Kolonel Yasir mengungkapkan kalau pasukannya telah menembak mati Aidit beberapa hari sebelumnya. Eksekusi dilakukan jelang adzan subuh berkumandang.

Ada dugaan, penembakan kepada Aidit disinyalir sebagai perintah dari Jakarta untuk mengakhiri hidup lelaki bernama asli Achmad, yang lahir di Jalan Belantu no.3, Pangkal lalang, Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 itu.

Ya, putra sulung dari pasangan Abdullah Aidit dan Mailan, itu tidak pernah didengar kesaksiannya di pengadilan. Bahkan hingga kini, keluarga besar Aidit menyebut kematian tokoh fenomenal PKI itu masih menyisakan kontroversi. Mengapa DN Aidit mesti ditembak mati?(bersambung)